ONE UNITED WORLD UNDER GOD

Ad Section

AVAILABLE

Memerkarakan Buddha Bar  

01 April 2009

Seperti yang kita tahu, sudah sebulan lebih ini masalah Buddha Bar jadi berita hangat. Resto-bar asal perancis tersebut menempati sebuah gedung cagar budaya di Menteng yang dulunya bekas gedung imigrasi. Banyak sekali pihak yang sudah mengeluarkan sikapnya untuk menolak keberadaan restoran ini. mulai dari Walubi, STAB-STAB, Majelis-majelis agama Buddha di Indonesia, Kementrian Agama, Dirjen Agama Buddha, Gerakan-gerakan Mahasiswa, DPR dan DPRD DKI, dan masih banyak lagi. Herannya Pemda DKI dan Dinas Pariwisata bergeming dalam hal ini. mungkin mereka pikir karena mereka didukung oleh orang-orang Buddhis yang sebenarnya adalah PETUALANG-PETUALANG dan OPORTUNIS Buddhis di Jakarta yang memang nafkahnya disitu. Masalahnya adalah penggunaan nama Buddha dan simbol-simbol agama Buddha sebagai interior untuk kepentingan bisnis apalagi bila itu tempat yang menjual minuman beralkohol. Berikut ini ada tulisan menarik mengenai permasalahan ini. Penulis adalah Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Coba disimak.

MEMERKARAKAN BUDDHA BAR
oleh: Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
dimuat di: http://news. okezone.com/ read/2009/ 03/30/58/ 205812/memerkara kan-nama- buddha-bar


Semua pemeluk agama dalam melakukan komunikasi dan ritual kepada Tuhan mesti menggunakan simbol-simbol yang disucikan karena menjadi sarana untuk mendekati Yang Maha Suci.

Simbol-simbol agama itu dimuliakan karena sebagai perantara untuk mendekati Yang Maha Mulia. Makanya semua agama memiliki konsep orang suci, kitab suci, tempat suci, dan simbol-simbol yang suci. Kesucian ini merupakan konsep, ajaran, doktrin, dan keyakinan yang dipeluk dan dibela oleh mereka yang beriman serta taat beragama.

Paham sekularisme memang tidak mengenal konsep kesucian. Semuanya profan, tidak sakral, sehingga tokoh dan simbol yang disucikan oleh umat beragama dianggap semu dan tidak memiliki signifikansi dalam kehidupan kecuali sebatas sugesti. Secara filosofis, umat beragama pun yakin bahwa Yang Maha Absolut dan Suci hanya Tuhan.

Namun kesucian Tuhan bisa melimpah atau beremanasi pada dunia manusia dan semesta sehingga siapa yang hendak mendekat kepada Tuhan Yang Maha Suci dianjurkan agar terlebih dahulu menyucikan dirinya dari berbagai pikiran dan tindakan kotor yang akan menghalangi kedekatan dengan Tuhan.

Lebih dari itu, semua agama juga memiliki tempat-tempat suci yang dijadikan sarana untuk melantunkan pujian kepada Tuhan karena yakin bahwa pujian dan doa kepada Tuhan akan lebih didengar jika disampaikan di tempat yang suci, oleh hati dan pikiran yang suci.

Sedemikian kuatnya umat beragama menjaga konsep tempat suci ini sehingga perebutan untuk menguasai "tanah suci" di Yerusalem antara umat Yahudi, Kristiani, dan Islam telah menjadi sumber krisis dunia dari waktu ke waktu. Begitu pun konflik berdarah-darah yang terjadi di India karena sengketa masjid dan kuil Hindu.

Di dalam komunitas muslim terdapat tradisi yang sangat kuat untuk menjaga citra Nabi Muhammad sampai-sampai siapa yang mencoba membuat patung atau gambar pasti akan menuai protes dari berbagai penjuru dunia. Bahkan dalam film kolosal The Message sosok nabi Muhammad tidak ditampilkan karena menghormati keyakinan dan tradisi umat Islam untuk tidak menghadirkan gambar visual Nabi Muhammad.

Raymond Visan, si pengagum Buddha, pendiri dan pemilik trade mark Buddha Bar, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bar yang didirikannya pertama kali di negerinya, Prancis, akan menuai kontroversinya yang sangat menyinggung umat Buddha di Indonesia.

Di beberapa negara seperti Prancis atau kota-kota semisal London, New York, Dubai, Sao Paulo, Kairo, dan Beirut, bar ini relatif aman dari kecaman dan kritik penganut Buddha. Namun, di Singapura, Malaysia, dan Thailand franchise ini ditolak tegas.

Di Indonesia, di mana masyarakatnya memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap agama, Buddha Bar telah mengundang kontroversi karena menyinggung simbol toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang kerap didengung-dengungkan oleh pemerintah dan masyarakat. Protes demi protes pun dilayangkan kepada sang pemilik bar melalui cara yang simpatik dengan mengirimkan surat untuk bertemu.

Di ranah internasional ada Konvensi Paris 1883 yang memuat ketidaksetujuan tentang penggunaan simbol-simbol agama sebagai merek dagang. Di ruang nasional pun ada undangundang (UU) yang menguatkan konvensi tersebut. Ada UU No 15/2001 tentang Merek yang di dalamnya dikatakan bahwa sebuah merek tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas agama, kesusilaan, atau ketertiban umum.

Lebih lanjut, Peraturan Pemerintah No 42/2007 tentang Waralaba juga menyatakan bahwa waralaba harus di selenggarakan berdasarkan perjanjian tertulis antara pemberi waralaba dengan penerima waralaba dengan memperhatikan hukum Indonesia. Hukum yang dimaksud itu diatur dalam UU No 15/2001 tentang Merek.

Dukungan tentang pelanggaran merek ini juga datang dari Menteri Agama RI Muhammad Maftuh Basyuni. Dia menegaskan, tempat hiburan yang menggunakan simbol agama seperti Buddha Bar sebaiknya segera ditutup karena telah melukai perasaan umat beragama.

Dia melanjutkan, "Jika tak ditutup, saya khawatir nanti ada Islam Bar, Kristen Bar. dan bar-baran lain (semacamnya) ," begitu kata Menteri Agama di depan tokoh masyarakat dan agama di Jambi belum lama ini. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha pun mendukung pernyataan Menteri Agama tersebut.

Sangha (perkumpulan para bhiksu), majelis agama Buddha sampai dengan Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Buddha pun turut menolak kehadiran Buddha Bar karena nama Buddha terlalu suci untuk disandingkan dengan kata "bar" yang menurut kamus berarti tempat minum-minum, khususnya minuman keras.

Kita sangat memahami bahwa pemeluk agama Buddha di Indonesia merasa dilecehkan dan tersinggung dengan pembukaan Buddha Bar ini. Nama nabinya yang suci dan mulia disandingkan dengan bar yang umumnya mereduksi praktik moralitas. Menurut kosakata bahasa Pali (India kuno), Buddha berarti orang yang telah mencapai pencerahan sempurna, bebas dari kekotoran batin, dan pemberi ajaran menuju ke pembebasan terakhir (nirvana).

Buddha bukan sekadar nama agama, tapi dia pun menjadi gelar nabi suci yang harus diagungkan. Karena itu, sungguh terasa janggal meletakkan Buddha di sebuah bar yang menawarkan segala kesenangan hedonistis, bukan spiritualistis. Apalagi ornamen-ornamen Buddha juga tersebar di hampir semua atribut bar.

Mulai dari piring, gelas, baju pelayan restoran, nama-nama menu hewani (yang notabene berasal dari hewan). Padahal, umat Buddha mengajarkan untuk menghindari pembunuhan, termasuk hewan.

Seorang teman mengadu kepada penulis bahwa di sini agama sudah dikomersialkan secara murahan. Pencerahan dan ketenangan batin yang menjadi menu utama dalam ajaran Buddha telah dimanipulasi dengan menu makanan untuk memanjakan selera lidah yang bersifat sesaat. Inilah penyebab yang sangat menusuk hati penganut agama ini.

Karenanya, tuntutan umat ini sederhana, jelas, dan konkret. Ganti nama bar dimaksud dan keluarkan seluruh ornamen dan atribut suci yang ada di dalamnya. Membuka restoran dengan cara yang simpatik tentu jauh akan lebih baik ketimbang mesti menyakiti saudara kita umat Buddha.

Kalau saja pemiliknya seorang yang menjunjung tinggi agama atau bahkan taat beragama, apa pun agamanya, pasti tidak rela kalau nama nabinya dan ornamen-ornamen yang disucikan dijadikan nama dan pajangan restoran atau bar.

Jadi pelarangan penamaan Buddha Bar sesungguhnya berlaku untuk penamaan bar-bar lain yang akan menyinggung perasaan umat beragama.Tidak hanya menyinggung, hal itu juga merendahkan martabat agama itu sendiri.

Read More......
AddThis Social Bookmark Button

Link to this post Email this post


 

Copyright © 2008 Agus Tjandra. All Rights Reserved. Design by Amanda @ Blogger Buster