ONE UNITED WORLD UNDER GOD

Ad Section

AVAILABLE

Momentum Naga-naga Pribumi Bangkit, Pulihkan Tulang Punggung Sosial Politiknya  

21 Januari 2009

Oleh: Daniel Johan

Kita semua tahu apa itu Batik, Wayang Kulit, dan Wayang Golek. Bahkan saat Malaysia mengklaim Batik sebagai warisan budaya mereka, segera saja sebagian besar dari kita meradang karena rasa nasionalisme yang terusik. Apa sebab? Karena kita tahu bahwa batik adalah budaya otentik bangsa Indonesia yang sudah demikian mengakar dalam kehidupan kita. Batik, Wayang Kulit, dan Wayang Golek inilah salah satu kreativitas dan jiwa seni yang lahir dari anak-anak bangsa Indonesia pribumi dari Suku Tionghoa.

Suku Tionghoa di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan banyak memberikan pengaruh pada berbagai warisan di berbagai bidang kehidupan, dari pertanian, bahasa, kesehatan, politik, hingga seni dan budaya. Namun sayang kekelaman praktik diskriminasi dan penindasan juga mewarnai kehidupan Suku Tionghoa di Indonesia. Semuanya bermula dari politik pecah belah devide at impera Belanda yang menggolongkan bangsa Indonesia atas 3 golongan yaitu Eropa, Timur Asing, dan “Pribumi”. Namun anehnya, kebijakan tersebut diadopsi dengan sempurna oleh Orde Baru. Tengok saja UU No. 62 tahun 1958 tentang Kewarganegaraan yang intinya mengkhianati proklamasi 17 Agustus 1945 karena UU tersebut justru menggunakan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) 27 Desember 1949 sebagai dasar hukum.

Ironis, sebuah negara merdeka masih tunduk pada keinginan penjajahnya. Konsekuensinya adalah sejak 1959 hingga 2006 warga negara tetap digolong-golongkan, sehingga praktik diskriminasi terhadap golongan yang sengaja dilemahkan yakni suku Tionghoa telah mengakar demikian kuat. Inpres No. 14/1967 oleh Rezim Suharto yang melarang segala hal berbau Tionghoa adalah puncaknya.

Butuh kemauan, kerja keras, dan perjuangan bersama untuk menghapuskannya karena meskipun sekarang telah ada UU Kewarganegaraan yang baru dan UU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis namun pada tingkat pelaksanaan masih banyak kendala. Dibutuhkan partisipasi aktif semua pihak untuk menuntaskan salah satu masalah bangsa ini.

Suku yang mengenal 12 Shio ini, selama tiga generasi merasakan pahit dan sakitnya didiskriminasi dan dipinggirkan dari arena kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara sistematis mereka dilokalisir di bidang bisnis dan perdagangan, sehingga secara pelan namun pasti suku Tionghoa di Indonesia kehilangan tulang punggung sosial politiknya. Sehingga orang-orang Tionghoa dari zaman Belanda hingga Republik Indonesia, tetap berada dalam “jangkauan meriam penguasa”, sehingga setiap saat dengan mudah dikorbankan pada saat keadaan tidak lagi menguntungkan penguasa. Tanpa tulang punggung sosial politik, Shio untuk orang Tionghoa yang seharusnya berjumlah 12 tereduksi menjadi 5 Shio yaitu “Kelinci Percobaan” bagi kerumitan birokrasi, “Kambing Hitam” bila terjadi krisis, “Sapi Perah” di masa aman, “Kuda Tunggangan” menjelang pemilu, dan “Ayam Potong” kalau keadaan sudah genting.

Sementara Pramudya Ananta Toer menyatakan bahwa keseluruhan tindakan dan kebijakan rasialis di Indonesia berakar dari pemalsuan terhadap bentuk dan isi peristiwa-peristiwa sosial oleh oknum-oknum tertentu, dengan tujuan agar Hoakiau lenyap dari Indonesia, tidak menjadi penduduk di negeri mana pun, atau minimal menjadi tempat menyeka kaki.

Tapi reformasi telah membuat Ibu Pertiwi kembali tersenyum. Suku Tionghoa dapat tampil kembali di arena publik, terutama sejak Gus Dur Deklarator PKB dengan tegas menghapus berbagai pembatasan terhadap suku Tionghoa, termasuk mencabut Inpres No 14/1967 sehingga masyarakat Tionghoa tidak lagi dilarang untuk mengeskpresikan secara publik berbagai kebudayaan dan tradisi mereka, khususnya dalam merayakan Imlek.

Kondisi ini harus dimaknai sebagai momentum untuk meregenerasi tulang punggung sosial politik pribumi Tionghoa, sehingga sebagai anak bangsa mampu berdiri tegak sebagai “Naga-Naga pribumi” yang sama setara dengan warga pribumi Jawa, Batak, Sunda, Papua, dan anak bangsa lainnya. Semoga Tahun Baru Imlek 2560 membawa harapan baru untuk perbaikan yang nyata. Kaum Tionghoa sebagai warga pribumi sah juga memiliki nilai-nilai yang bisa disumbangkan untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Pemilu 2009 adalah pintu masuk terpenting bagi pribumi Tionghoa dalam meregenerasi tulang punggung sosial politiknya sehingga antusias dan keterlibatan aktif untuk memilih wakil rakyat mereka jangan disia-siakan. Setiap pribumi Tionghoa harus menggunakan hak pilihnya dengan sebaik-baiknya karena masa-masa diskriminasi telah berakhir sehingga naga-naga pribumi bersama anak bangsa yang lain bisa bersama-sama memberi kontribusi terbaiknya untuk kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia.

Sumber: www.kabarindonesia.com

(Catatan Author: Bertepatan dengan momentum Imlek, sengaja saya muat tulisan ini sebagai refleksi. Artikel ini ditulis oleh Daniel Johan, Wakil SekJend DPP PKB. Saya pernah posting tentang beliau, silahkan klik disini)

Read More......
AddThis Social Bookmark Button

Link to this post Email this post


What? Me? A Racist? - Comic Book  

04 Januari 2009

Satu lagi komik yang menurut saya bagus. Judulnya What? Me? A Racist? (1998).



Komik ini dibuat oleh komunitas di Eropa untuk mendukung gerakan yang waktu itu sedang digalakkan oleh Uni Eropa (European Union). Uni Eropa memutuskan untuk memerangi diskriminasi gender, ras, etnis, agama & keyakinan, cacat tubuh, usia, dan orientasi sex. Komik ini didisain agar dapat digunakan oleh para guru dalam menjelaskan isu rasisme pada kaum muda di Eropa.

Klik disini untuk download lewat Rapidshare (20MB). Atau kamu-kamu bisa klik di Book List saya di sidebar sebelah kiri.

Catatan penting:
Sebagai informasi bagi kamu-kamu yang belum pernah baca e-book, e-book di atas dibuat dalam format .cbr dimana untuk membacanya harus menggunakan software CDisplay. klik disini untuk download CDisplay gratis tis tis!

Read More......
AddThis Social Bookmark Button

Link to this post Email this post


9-11 Comic Book 2002  


Saya baru saja dapat e-book ini, comic book tepatnya, tentang peristiwa 9-11. Kelihatannya menarik, kalau kamu-kamu ingin download bisa klik link di Book List saya. Tapi cukup besar lho, 107 MB! dan dari Rapidshare, kalo minat silahkan.

Read More......
AddThis Social Bookmark Button

Link to this post Email this post


Paijo - Jokes For Fun  

03 Januari 2009

Selesai urusan di luar negeri, Paijo kembali ke tanah Air. Di dalam pesawat, kebetulan Paijo duduk bersebelahan dengan cewek asal Indonesia. "Kebetulan nih, ada temen ngobrol yang ngerti bahasa gue," kata Paijo dalam hati. Tapi selama perjalanan, cewek itu selalu membaca buku. Paijo pun membuka percakapan.

Paijo: "Kok baca buku terus Mbak? Mau ujian ya?"
Cewek: "Bukan Mas. Lagi penelitian."
Paijo: "Kalo boleh tau, penelitiannya tentang apa Mbak?"
Cewek: "Tentang bentuk alat vital para penduduk berbagai suku di Indonesia."

Paijo: "Wah hebat! Gimana tuh hasil penelitiannya?"
Cewek: "Menurut pengamatan sementara, bentuk alat vital orang Bali adalah yang paling bagus bentuknya."
Paijo: "Kenapa begitu?"
Cewek: "Yaaa... karena orang Bali kan pintar ukir-ukiran."
("Hmmm... masuk akal juga," kata Paijo dalam hati).
Paijo: "Kalo yang paling besar?"
Cewek: "Yang paling besar itu alat vitalnya orang Batak."
(Waaahh... Paijo makin antusias).
Paijo: "Trus, kalo yang paling panjang suku apa?"
Cewek: "Suku Sunda... soalnya mereka kebiasaan pake sarung."

Paijo: "Ooh gitu,,, Eh iya, ngomong-ngomong kita belum kenalan ya?"
Cewek: "O iya. Nama saya Rini. Mas namanya sapa?"
Paijo: "Nama saya... ANAK AGUNG CECEP SITUMORANG...!"

Read More......
AddThis Social Bookmark Button

Link to this post Email this post


Mengobati Sakit Kepala - Jokes For Fun  

01 Januari 2009

Seorang pria datang ke dokter untuk mengobati sakit kepalanya yang sangat hebat. Setelah diperiksa, dokter kemudian memutuskan untuk mengamputasi kedua buah zakarnya karena "aksesori" tersebut menekan urat saraf yang mengakibatkan sakit kepala tadi. Walau keberatan, akhirnya ia merelakan "aksesori"nya diamputasi. Setelah operasi, ia merasa sangat sehat tapi agak depresi karena kehilangan lambang kejantanannya. Maka untuk menaikkan moral dan citra dirinya, ia pergi ke toko khusus pria yang terkenal mahal.



Seorang pelayan datang menghampirinya. " Anda pasti sedang mencari setelan dari perancang terkenal," sapa si pelayan. Si pria tadi kaget dan mengiyakannya.

"Anda kelihatannya mamakai ukuran celana 32-29, jas ukuran 40 dan baju ukuran 16," lanjut si pelayan.

Pria itu sangat kagum karena si pelayan bisa tahu dengan tepat ukurannya. Pelayan menjawab, itu sudah jadi pekerjaannya. Ketika si pria tadi mencoba setelan yang diberikan si pelayan, semuanya cocok dengan ukuran tubuh bahkan seleranya.

"Sekarang tinggal celana dalam, coba pilihkan untuk saya," kata si pria.

"Bapak pasti pakai nomor 32 model boxer kan?" jawab si pelayan.

"Kali ini kamu salah! Selama ini saya selalu memakai celana dalam nomor 28 model brief," katanya.

"Tapi pak," lanjut si pelayan, "Kalau saya jadi bapak saya tidak melakukan itu. Kalau bapak memakai celana dalam seperti itu, bapak pasti akan merasa sakit kepala yang sangat hebat!"

"?????" Si pria bengong ill-feel.

Wakakakakak.


Read More......
AddThis Social Bookmark Button

Link to this post Email this post


 

Copyright © 2008 Agus Tjandra. All Rights Reserved. Design by Amanda @ Blogger Buster