ONE UNITED WORLD UNDER GOD

Ad Section

AVAILABLE

Daniel Johan, A Next Step of a Fight  

24 Desember 2008


Saya punya seorang sahabat, namanya Daniel Johan. Pertama kali kami bertemu tahun 1990. Dia senior di SMA. Dia yang memperkenalkan dunia organisasi secara serius pada saya. Kami aktif dan berjuang bersama di organisasi mahasiswa Buddhis yang dikenal dengan nama HIKMAHBUDHI (The Union of Indonesian Buddhist Students). Bagi saya ia sahabat sekaligus guru.

Dia lahir dalam keluarga pedagang kelas menengah, bungsu dari 6 bersaudara. Hidupnya biasa-biasa saja. Relatif tidak pernah mengalami yang namanya hidup miskin, namun ia punya kepedulian tinggi dengan kemiskinan di negeri ini. Dia besar dalam lingkungan yang baik dan keluarga yang mendukung. Namun ia mandiri dan pada waktu yang bersamaan dia memiliki konflik batin. Dia melihat bagaimana korupsi, kemiskinan, dan ketidakadilan membelenggu rakyat, dan dia tidak bisa menerima hal itu.

Dia menyukai buku, dan dia banyak membaca buku-buku dan tulisan-tulisan yang bagus dan inspiratif. Buku-buku itu yang membentuk karakter dan kepribadiannya. Beberapa tokoh mempengaruhi karakternya dan menjadi panutan baginya, sebut saja Gusdur (K.H. Abdurrahman Wahid), Kwik Kian Gie, Romo Mangunwijaya. Pelan namun pasti ia tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan idealis.

Kami, bersama dengan teman-teman lain di organisasi, punya mimpi besar. Kami ingin suatu saat ada seorang aktifis, seseorang dari kami, yang punya idealisme, intelek, jujur, dan berprinsip, lahir menjadi seorang tokoh masyarakat yang jujur. Mengapa? Untuk apa? Karena kami ingin ada seseorang yang memperjuangkan komunitas kami, kepentingan kami, dan kepentingan bangsa ini dengan cara yang baik dan bermoral. Terlalu banyak politisi kotor di negeri ini. Itulah mimpi kami, mimpi yang pada waktu itu terasa seperti fantasi yang liar.

Ya, fantasi! Karena kami berasal dari komunitas yang minoritas di negeri ini. Kami keturunan Tionghoa dan kami Buddhis. Namun kami juga nasionalis. Kami sangat mencintai negara ini, dan kami mencintai rakyat dan bangsa ini. Karenanya ketika kami masih aktif di organisasi, kemi belajar dan berjuang bersama untuk meletakkan paradigma baru dan dasar-dasar yang kuat bagi organisasi kami. Kami ingin membangun organisasi yang kuat, inklusif, dan perduloi atas masalah-masalah bangsa, dengan berdasarkan nilai-nilai Buddhis yang kami yakini tentunya. Dalam perjuangan itu kami harus berhadapan dengan komunitas kami sendiri, komunitas yang masih memiliki pandangan kolot tentang organisasi mahasiswa Buddhis. Namun pada akhirnya kami berhasil! Kami membuka diri pada organisasi-organisasi mahasiswa lainnya, baik dari agama lain maupun yang beraliran nasionalis, termasuk organisasi Buddhis internasional sepertiInternational Network of Engaged Buddhists (INEB). Kami berinteraksi dan bekerjasama dengan mereka untuk memberikan kontribusi terbaik kami bagi negara ini.

Kami berjuang bersama menentang rejim Suharto. Kami berdemonstrasi dan mendukung gerakan mahasiswa lainnya melawan rejim Orde Baru. Kami bahkan nekat turun ke jalan ketika peristiwa Kerusuhan Mei '98 pecah di Jakarta. Daniel salah satu teman yang meyakinkan saya bahwa saat itu adalah saat dimana kami sudah seharusnya berada di jalanan dan berjuang bersama, bukannya berlindung dalam keamanan semu rumah kami masing-masing.

Kini kami menempuh jalan kami masing-masing. Saya dan beberapa teman kini hidup dan bekerja selayaknya warga negara biasa yang baik. Namun kami tidak pernah benar-benar berpisah. Kami masih terikat oleh visi dan mimpi yang sama. Kami masih menjaga kontak dan bertemu secara regular dalam kelompok kerja kecil yang kami bentuk bersama.

Hanya sobat ini, Daniel Johan, yang masih konsisten pada jalan kami semula. Dia masih menjadi aktifis. Dia tetap menjaga hubungan dengan aktifis-aktifis yang lain. Lalu, seperti dikatakan oleh salah satu teman kami, he took the next step in his fight for the people in need. Dia bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai Wakil Sekjen di DPP. Dia bergabung ke partai ini karena keyakinannya atas partai ini. Baginya partai ini memiliki kesamaan visi dengannya. Partai ini didirikan oleh Gusdur, seorang yang selalu konsisten melawan diskriminasi dan selalu membela kaum minoritas. Orang yang sejak dulu ia kagumi. Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar, adalah kawan seperjuangan kami sejak mahasiswa dulu dan merupakan mantan ketua umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sebuah organisasi mahasiswa yang berafiliasi pada Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk pemilu 2009 nanti, Daniel menjadi calon anggota legislatif untuk daerah pemilihan Jakarta 3, dan ia menempati caleg urutan no.2. Visi kampanyenya adalah "Selamatkan Ibu Pertiwi, Sejahterakan Anak Bangsa" seperti yang didengungkan oleh websitenya yang ia buat untuk memperkenalkan dirinya ke masyarakat pemilih sekaligus menjadi media baginya untuk mempublikasikan pendapat-pendapat dan pandangan-pandangannya kepada publik. Kamu dapat mengunjungi website tersebut di www.daniel-13-2.com atau kamu dapat meng-klik link-nya di kolom Partner di sidebar blog ini.

Saya rasa sekarang sudah saatnya bagi Indonesia untuk memberikan kesempatan pada anak-anak muda macam Daniel. Darah muda yang memiliki visi baru, semangat dan idealisme untuk mereformasi Indaonesia ke bentuk dan arah yang lebih baik, sekaligus sebagai regenerasi para pemimpin dan wakil kita. Terlalu banyak politisi kotor di negeri ini, sudah saatnya bagi mereka untuk mundur dan pensiun. Kita hanya bisa berharap agar para politisi dan calon pemimpin muda ini dapat mempertahankan idealisme dan kejujuran mereka di dalam dunia politik yang absurd ini.

Seperti Lotus yang tetap bersih dan suci di tengah sungai berlumpur.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


 

Copyright © 2008 Agus Tjandra. All Rights Reserved. Design by Amanda @ Blogger Buster